Skip to main content

Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Sejarah Indonesia Peserta Didik Pada Kelas XI MIPA 2 Melalui Model Pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) Sma Negeri 1 Semarang Tahun Ajaran 2018/2019


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan  dari  kehidupan  seseorang  baik  dalam  keluarga,  masyarakat  dan bangsa. Negara Indonesia sebagai negara berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang berkulitas. Salah satu usaha  menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah melalui pendidikan.

Pendidikan selalu identik dengan proses belajar mengajar, dengan tujuan untuk mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sebaik-baiknya. Dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan untuk berfungsi secara baik dalam masyarakat. Oleh sebab itu, berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Diantaranya pengembangan kurikulum, pengadaan bahan ajar, pembenahan perangkat media pembelajaran, dan lain-lain. Melalui usaha ini diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, efektif, dan efisien.

Keberhasilan dalam proses belajar mengajar di sekolah tergantung kepada beberapa aspek yaitu sarana prasarana, guru, Peserta Didik dan model pembelajaran. Keempat aspek tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Pada pembelajaran yang memiliki sifat konvensional aspek yang dominan dalam proses pembelajaran adalah guru menyampaikan materi dan Peserta Didik mendengarkan. Akan tetapi didalam kurikulum 2013 Guru dan Peserta Didik berkolaborasi untuk menciptakan suatu pembelajaran yang berkualitas.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut kualitas pendidikan yang lebih baik, agar menghasilkan produk pendidikan yang siap menghadapi era globalisasi. Setiap individu yang terlibat dalam pendidikan dituntut berperan secara maksimal guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu inti dari pendidikan yang bermutu terletak pada proses pembelajaran di kelas (Nugroho, 2013:1). Selanjutnya Ari Prasetyo (2012:1) menyatakan, “Perkembangan dalam dunia pendidikan pada saat sekarang ini bertujuan untuk membentuk manusia yang berkarakter”. Adapun tugas tersebut diemban oleh seluruh lembaga formal dalam dunia pendidikan yang bertujuan mencetak SDM yang berguna bagi masyarakat banyak.

Hakikat pendidikan dalam konteks sekolah adalah bantuan sosial untuk mencapai kepribadian manusia yang paripurna. Pengembangan nilai-nilai moral ditujukan sebagai upaya terencana membentuk manusia Indonesia yang berkarakter di mana nilai-nilai itu disisipkan ke dalam proses belajar-mengajar. Orientasi pendidikan sejarah sejatinya ditujukan untuk memperkuat karakter melalui subtansi materi di dalamnya. Namun, dalam praktek proses pembelajarannya lebih mempersoalkan pada peningkatan prestasi kognitif daripada afektif. Hal inilah yang menyumbang salah satu penyebab gagalnya pendidikan sekolah di Indonesia.

Selanjutnya, Sanjaya (2006:1) menyatakan, “Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari”.

Menanggapi hal tersebut dalam upaya mencapai proses pembelajaran yang diinginkan, maka peran guru dalam mengajar akan menjadi faktor penentu ketercapaian tujuan sehingga guru perlu mengidentifikasi masing-masing anak didiknya dalam proses mereka belajar untuk mengetahui karakter kesenjangan penampilan peserta didik akibat kurangnya kesempatan mendapat pelatihan, mengidentifikasi bentuk pembelajaran yang tepat, dan menentukan populasi yang dapat disertakan dalam pembelajaran sehingga dapat melahirkan solusi yang tepat sesuai tujuan kurikulum.

Keberhasilan dalam pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor yang terlibat dalam semua kegiatan belajar mengajar. Diantara faktor-faktor tersebut adalah peserta didik, guru, kebijakan pemerintah dalam membuat kurikulum, serta dalam proses belajar seperti metode, sarana dan prasarana (media pembelajaran), model, dan pendekatan belajar yang digunakan. Kondisi real dalam pelaksanaannya latihan yang diberikan tidak sepenuhnya dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menerapkan konsep. Rendahnya mutu pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya proses pembelajaran. Penyebabnya dapat berasal dari peserta didik, guru maupun sarana dan prasarana yang ada, minat dan motivasi peserta didik yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan prasarana yang kurang memadai akan menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif.

Mata pelajaran Sejarah dalam kurikulum 2013 merupakan mata pelajaran yang dibelajarkan bagi peserta didik jenjang pendidikan menengah SMA, MA, dan SMK. Telah dilaksanakan observasi awal terkait proses pembelajarannya di kelas XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang. Menurut Drs. Sugeng Purwoko, MM yang merupakan guru yang mengampu mata pelajaran ini, dari segi sarana dan prasarana yang tersedia di kelas sudah lengkap dimana di tiap-tiap kelas sudah terdapat LCD dan juga bahan ajar yang digunakan tidak serta merta bergantung pada penggunaan LKS dimana guru sudah mengembangkan bahan ajar sendiri dari buku-buku yang relevan yang kesemuanya ini sesuai kebutuhan pada mata pelajaran sejarah, tapi dalam penggunaan model atau metode masih kurang variatif sehingga dalam pembelajaran sejarah, keaktifan belajar peserta didik masih kurang terutama pada kelas XI MIPA 2 dimana dipengaruhi oleh faktor dimulainya proses belajar mengajar sejarah yang dilakukan pada siang hari yang memungkinkan peserta didik dalam hal ini sudah kurang berkonsentrasi dalam mengikuti seluruh proses belajar mengajar sejarah di kelas dan berakibat pada kurangnya keaktifan peserta didik dalam mengikuti seluruh proses belajar yang hanya berkisar sekitar 50 % dari seluruh jumlah peserta didik yang ada di dalam kelas.

Selanjutnya mengenai diskusi kelompok, dikatakan oleh narasumber bahwa selama ini pembelajaran diskusi kelompok pada kelas XI MIPA 2 juga sering diterapkan, hal ini dilakukan untuk meningkatkan minat dan keefektifan belajar peserta didik dalam mempelajari sejarah apalagi di dalam kurikulum 2013 dituntut bahwa guru bukan lagi menjadi sentral dalam proses belajar mengajar. Peserta didik dituntut untuk mengembangkan dirinya sendiri dibantu oleh teman-temannya dalam proses pemecahan sebuah masalah. Namun kendala yang dihadapi oleh guru ialah tetap pada waktu masuk jam pelajaran dan kadangkala ada peserta didik di dalam kelompok mengerjakan sendiri tugas yang diberikan tanpa mengajak anggota kelompoknya bersama dalam mencari jawaban karena memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata jika dibandingkan dengan anggota kelompoknya. 

Sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Semarang, tentu peserta didik yang duduk di bangku SMA Negeri 1 Semarang adalah anak-anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tentu hal ini merupakan salah satu faktor yang sangat membantu berjalannya proses pembelajaran secara maksimal di dalam kelas dikarenakan dengan sedikit saja guru menjelaskan materi, maka peserta didik mampu dengan cepat mengolah dan menganalisis materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena itu, maka peneliti dalam penelitian tindakan kelas kali ini hanya berfokus untuk meningkatkan keaktifan belajar sejarah peserta didik dan perlu mengukur hasil belajar peserta didik. Setelah melaksanakan wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran sejarah, selanjutnya peneliti melaksanakan observasi di ruang kelas yakni kelas XI MIPA 2 dimana peneliti mengajukan pertanyaan seputar tanggapan peserta didik ketika masuk jam pelajaran sejarah. Ketika itu jam pelajaran sejarah dimulai pukul 10.30-12.00 WIB pada hari Senin. Adapun jawaban dari peserta didik yang dapat peneliti rangkum ialah jam masuk mata pelajaran merupakan sebuah masalah dimana pada saat jam siang seperti itu peserta didik sudah lelah dan membuat minat belajar mereka berkurang dan berakibat pada keefektifan belajar sejarah ditambah lagi adanya jam pelajaran matematika yang harus dipelajari sebelum jam masuk pelajaran sejarah. Disini, guru harusnya memberi stimulus pada awal kegiatan pembelajaran sejarah agar peserta didik memiliki semangat belajar. Salah satu cara yang dapat digunakan ialah dengan memilih model pembelajaran yang sesuai dan dapat mengatasi masalah tersebut di atas, sehingga dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik dalam pembelajaran Sejarah. Menurut peneliti, model pembelajaran yang dapat diterapkan dan sesuai untuk memecahkan masalah tersebut adalah model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together). Model pembelajaran Numbered Heads Together  merupakan sebuah model pembelajaran kooperatif yang mengutamakan adanya kerjasama antar peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada peserta didik, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah.

Dalam memecahkan suatu masalah dalam kegiatan diskusi, diharapkan bahwa peserta didik di dalam kelompoknya untuk tidak saling mengandalkan satu sama lain diantara anggota kelompoknya sehingga diharapkan semua peserta didik akan aktif berpikir dan behasil dalam aktivitas pembelajarannya. Upaya tersebut dapat terwujud dengan cara menerapkan model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) atau kepala bernomor struktur sebagai inovasi untuk mengaktifkan proses belajar mengajar dan hasil belajar sejarah peserta didik pada jam masuk siang hari.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis mengambil judul penelitian “Penerapan Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Sejarah Peserta Didik Kelas XI-MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2018/2019”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan keaktifan belajar pada mata pelajaran sejarah Peserta Didik Kelas XI-MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2018/ 2019?
2. Apakah penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah Peserta Didik Kelas XI-MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2018/ 2019?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan judul dan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Penerapan model Numbered Heads Together (NHT) diharapkan dapat meningkatkan keaktifan pada mata pelajaran sejarah Peserta Didik Kelas XI-MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2018/ 2019
2. Penerapan model Numbered Heads Together (NHT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran sejarah Peserta Didik Kelas XI-MIPA 2 SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2018/ 2019

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Peserta didik
a. Memberikan suasana baru dalam pembelajaran agar siswa lebih termotivasi untuk belajar sejarah sehingga hasil belajar meningkat.
b. Meningkatkan peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. 
c. Meningkatkan kerja sama antar peserta didik dalam proses pembelajaran.
d. Meningkatkan rasa percaya diri peserta didik dalam berinteraksi di kelas

2. Bagi Guru
a. Memberikan masukan bagi guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik minat belajar peserta didik.
b. Meningkatkan kreativitas guru dalam melaksanakan pembelajaran.

E.    Batasan Istilah
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disampaikan, penelitian ini dibatasi pada meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Peserta Didik dalam pembelajaran sejarah kelas XI MIPA 2  SMA Negeri 1 Semarang. Peningkatan  keaktifan dan hasil belajar dalam pembelajaran sejarah ini  difokuskan  pada  penerapan model pembelajaran yang digunakan yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe  Numbered Heads Together (NHT). 

Comments

Popular posts from this blog

Manfaat Memberi Jentik Nyamuk Kepada Ikan Cupang

Ikan Cupang (Betta SP) sebenarnya adalah ikan liar yang diternakan dan dibudidayakan oleh para penghobi ikan cupang. Hasil perkawinan silang antara jenis ikan cupang juga dapat terjadi dan menghasilkan beberapa jenis ikan cupang baru dengan corak dan kombinasi warna yang lebih menaarik perhatian. Ikan cupang memiliki peminat tersendiri yang selalu ada di setiap generasi. Harga nya juga relatif terjangkau tergantung jenis dan kualitas si cupang sendiri. Pakan ikan cupang berupa pelet bisa dibeli di toko-toko ikan yang berada di dekat tempat tinggal. Namun pelet khusus cupang tidak dianjurkan untuk dijadikan pakan utama dalam proses pemeliharaan ikan cupang. Pelet ikan cupang memang tidaklah terlalu mahal namun pasti memiliki kekurangan tersendiri. Pemberian pakan hidup seperti jentik nyamuk sangat dianjurkan agar kebutuhan nutrisi harian ikan cupang terjaga. Jentik nyamuk memang merupakan makanan alami ikan cupang. Memperoleh jentik nyamuk juga sangat mudah. Cukup menyediakan air yang t...

Tutorial Lengkap Terbaru Cara Membuat Safelink Converter Domain Blogspot dan Tld Work 100%

SAFELINK CONVERTER Tutorial Lengkap Terbaru Cara Membuat Safelink Converter Blog Domain Blogspot dan Tld Work 100% Yang pertama saya panjatkan Puji dan Syukur kepada Allah SWT karena berkat Nya kita masih diberi kesehatan dan rezeki sampai detik ini. Memang kadang kala benar perihal tentang Peribahasa yang berbunyi Prosesmu tidak akan menghianati hasilmu. Dan itu terkadang juga terjadi pada saya pribadi. :'V Curcol wak?! Baik, kali ini saya akan menulis atau membagi artikel yang membahas tentang SAFELINK CONVERTER , apa itu  SAFELINK CONVERTER ? Bisa baca Artikel saya PENGERTIAN LENGKAP  SAFELINK CONVERTER . Sebelum masuk ke inti pembahasan kita kali ini saya ucapkan terima kasih pada para senior - senior yang bergelud di dunia blogging dan AdSense , karena tanpa mereka saya juga tidak akan tahu menau tentang SAFELINK ini. Dan saya di sini hanya sedikit melengkapi dan menulis dengan bahasa yang mudah di pahami oleh mahluk - mahluk yang kurang beruntung atau netijen -...

Cara Meracik Kopi Gayo Yang Benar Di Rumah

Trend minum kopi memang tak pernah surut. Selain dipercaya memiliki manfaat yang luar biasa banyak, khusus orang Arab percaya bahwa kopi adalah minuman yang mampu menambah umur dan mencegah penuaan. Dua kabupaten di provinsi Aceh yaitu Aceh Tengah dan Bener Meriah, memiliki perkebunan kopi yang luas. Ribuan hektar perkebunan kopi terbentang luas di dua kabupaten ini. Tak heran, jika masyarakat Gayo yang menghuni dua kabupaten ini mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani kopi. Kopi Gayo namanya, saat ini namanya tengah mendunia. Beberapa penghargaan internasional telah diraih oleh kopi Gayo. Oleh karena itu, namanya tak asing lagi didengar pada kancah internasional dan membuat harga kopi Gayo meroket tajam dibanding harga kopi lainnya. Lalu Bagaimana cara orang Gayo sendiri dalam menikmati enaknya kopi Gayo? Cara orang Gayo menikmati kopi adalah dengan diseduh. Dengan takaran dua sendok gula dan satu sendok kopi per 200 mililiter air atau setara dengan ukuran gelas kecil. Takaran ini...